Penyampaian visi misi calon gubernur/wakil gubernur Sumatera Utara di ruang rapat paripurna DPRD Sumut Jl. Imam Bonjol, Medan, Minggu (30/3) diwarnai joke-joke (guyon). Sementara, paparan program cenderung ‘menjual mimpi’ dan hampir semua calon menyampaikan database Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut.
Misalnya membangun infrastruktur seperti jalan dan jembatan, mengatasi krisis listrik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Hal-hal seperti ini sudah sangat biasa, rakyat juga sudah bosan mendengarnya,” kata anggota DPRDSU dari Komisi E, Rafriandi Nasution, di sela penyampaian visi misi tersebut.
Rapat yang dipimpin pelaksana Ketua DPRDSU Hasbullah Hadi, Wakil Ketua Ali Jabbar Napitupulu dan Japorman Saragih, tidak dihadiri Gubsu Rudolf M Pardede. Dia diwakilkan Sekdaprovsu Muhyan Tambuse. Pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak, mendapat kesempatan pertama sesuai nomor pencoblosannya, memaparkan visinya membangun Sumut yang religius, berwawasan, kesejahteraan dan lingkungan.
Keduanya juga bertekad memajukan iklim usaha yang sehat, sehingga menunjang pertumbuhan perekonomian. “Kami menaruh harapan besar kepada dunia usaha, dengan melakukan kemudahan berinventasi. Dengan begitu angka kemiskinan dapat ditekan,” kata Umri bertekad jika terpilih, dalam setahun kepemimpinannya menurunkan angka kemisikinan hingga di bawah 5 persen.
Dia juga menggaransi, dalam setahun kepemimpinannya tidak ada lagi krisis listrik, dan menjamin kerusakan jalan provinsi, kabupaten dan kota ditekan hingga 10 persen. Target lainnya, membangun bandara internasional Kualanamu, bandara Samosir dan Nias, bandara Aek Godang serta bandara di Madina.
Kemudian, melakukan subsidi honor guru-guru negeri dan swasta, memberi pelayanan kesehatan gratis dan memberi bantuan khusus kepada pemerintahan desa dan kelurahan, bertujuan membangun perekonomian masyarakat kecil. Sementara, pasangan Tritamtomo dan Bennny Pasaribu yang membuka salam dengan ucapan ‘Salom dan Horas’, lebih menekankan rasa aman dan kesejahteraan. “Bila Sumut aman, otomatis menjaring investor masuk, sehingga dapat menanggulangi kemisikinan dan pengangguran,” kata Tritamtomo.
Tema sentral itu katanya, dilakukan melalui proses membangun, kerja sama dan sama-sama bekerja. Karena itu mereka akan menjalin kerjasama dengan elemen masyarakat dan instansi terkait, sehingga program ditawarkan berjalan baik. Dia mengaku memahami benar teritorial Sumut berdasarkan pengalaman penugasannya sebagai Pangdam I/BB.
“Banyak persoalan seperti deportase (pemulangan) TKI dan kasus-kasus perompakan di selat malaka disebabkan benang merah yang terputus. “Kita juga melihat jurang antara yang kaya dan miskin cukup jauh. Jika tidak disikapi, hal ini dapat menjadi ancaman, dan menghalangi investor ke Sumut,” katanya.
Persoalan infrastruktur juga menjadi perhatian mereka, termasuk mengatasi krisis listrik, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kesehatan, pendidikan dan membina harmonisasi antara agama. Sertifikasi tanah dan persoalan pupuk juga menjadi tema mereka.
“Kita akan membangun coldstorage dan koperasi-koperasi untuk menampung hasil panen petani, sehingga petani tidak lagi kesulitan menjual hasil panennya ketika panen raya,” kata Tritamtomo menegaskan, jika tidak ada titik cerah dalam tiga tahun terhitung masa kepemimpinannya, dia siap mundur dari jabatan gubernur.
Sementara, visi misi pasangan RE Siahaan dan Suherdi cenderung sama dengan calon lainnya yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membangun infrastruktur, pendidikan dan pelayanan kesehatan dengan menjalin kerjasama seluruh rakyat.
Hal sama dikatakan pasangan Abdul Wahab Dalimunthe dan Raden Mohammad Syafii. “Saya rasa visi misi yang kami sampaikan sama dengan yang lain, karena semua data berasal dari BPS,” kata Wahab. “Seperti penjelasan tentang profil Sumut dengan luas wilayah 71.680 Km2, jumlah penduduk 12.643.494, jumlah kabupaten 21, kota 7, kecamatan 325 dan desa 5.456. Tidak ada yang beda,” katanya.
Diperlukan saat ini kata dia, pemimpin yang teladan. “Kemiskinan dan penangguran disebabkan lemahnya sistem pemerintahan, dan tidak adanya kesetaraan,” katanya. Wahab mengaku bahwa visi misi yang dia sampaikan, juga calon lainnya sebuah mimpi.
“Kita harus realistis, visi misi ini adalah mimpi dan berharap ada ‘lampu Aladin’,” katanya mencontohkan, untuk membangun bandara di Sumut memerlukan biaya besar, sementara APBD Sumut tahun ini hanya sekitar Rp3,2 triliun. Bandingkan dengan Riau yang berpenduduk sekitar 6.000 jiwa, APBD nya mencapai Rp3-4 triliun.
Pasangannya, Raden M Syafii menambahkan bahwa, program mereka yang lain meningkatkan partisipasi swasta guna meningkatkan perekonomian. Juga meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan dan berpolitik, dan melindungi individu perempuan dan anak dengan menguatkan lembaga yang mengatur masalah itu. Selain itu, meningkatkan kualitas dalam kehidupan beragama, dan melawan kejahatan korupsi, yang dimulai dari pejabat tinggi hingga tingkat terendah.
Penyampaian visi misi terakhir, disampaikan pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho. Syamsul dengan gayanya yang kocak, membuka pidato politiknya dengan yakin bahwa dirinya akan menang dalam Pilgubsu. “Sama seperti pak Wahab, saya juga tidak membawa supporter, karena saya yakin supporter saya sudah berada di dalam (ruang paripurna),” katanya disambut gemuruh tepuk tangan.
Dia tidak membaca secara resmi visi misi, karena map berisi visi misi tetap dipegang wakilnya hingga akhir pidato. “Visi pertama saya, takut kepada Allah. Kalau sudah takut kepada Allah, maka akan takut kepada kesalahan,” katanya. Kemudian peduli kepada umat dan sabar. Bertanggungjawab kepada bangsa dan negara. Caranya kata dia, jangan pakai jam tangan Rolex, jangan membangun mall saja, karena rakyat masih susah.
Soal rencana jangka menengah dan jangka panjang, tentunya atas pengesahan wakil rakyat. “Kita hanya mengcombain usulan dan yang disahkan wakil rakyat, jadi tidak bisa one man show,” sebutnya.
Syamsul kemudian seakan memberi dukungan kepada saingan politiknya seperti kepada Benny Pasaribu yang mengkritik, bahwa di Langkat, tempat Syamsul menjabat sebagai bupati ditemukan kasus gizi buruk.
“Saya banyak belajar dari sahabat saya, pak Benny, dan kaget hasil investigasinya terdapat kasus gizi buruk di Langkat, karena swasembada pangan di Langkat surplus. Saat ini swasembada pangan 120 ton per tahun,” katanya. Mengenai krisis listrik, dia mengatakan, tidak menjadi gubernur pun, dia yakin bisa menuntaskan masalah ini pada 2009.
“Kami sudah sedekahkan lahan 90 hektar di Langkat untuk dibangun PLTU dengan kekuatan 450 ribu megawatt, dan direncanakan selesai 2009. Dengan beroperasinya PLTU itu, ditambah pasokan dari Taurung dan Asahan, maka krisis listrik akan selesai pada 2009,” katanya.
dan diantara pidato-pidato cagubsu diatas, pemaparan Bapak Syamsul Arifin dengan segala kerendahan dirinya, visi dan misi tersebut lebih realistis. (posting&edit by sofiyar& erik samosir)


