Menilik ’serangan udara’ yang dilakukan tim sukses para capres semenjak dimulainya gong kampanye, masyarakat makin sering disuguhi berbagai iklan yang beragam. Padahal masyarakat sebelumnya sudah ‘kekenyangan’ melihat iklan untuk pemilihan legislatif, baik iklan parpol, caleg, maupun pimpinan parpol.
Sekarang, mau tidak mau dan suka tidak suka, masyarakat harus mengkonsumsinya karena hampir tidak ada stasiun televisi nasional yang tidak menampilkan iklan peserta hajatan nasional berupa Pilpres 2009.
Setiap iklan pasti ada pesan dan misi yang ingin disampaikan kepada konsumen (masyarakat). Pesan yang ditangkap oleh masyarakat adalah tergantung pada konten, kemasan dari iklan tersebut, serta daya tangkap masyarakat.
Iklan dengan konten yang bagus namun kemasan kurang menarik, maka pesan tidak akan tertangkap utuh. Konten dan kemasan iklan bagus namun daya tangkap masyarakat tidak dapat menjangkaunya maka misi dan pesan iklan tersebut pun tidak tersampaikan secara penuh.
Pesan sederhana yang tertangkap dari seliweran iklan capres di hampir setiap jeda dan commercial break adalah adanya perbedaan karakter iklan yang mencolok antar kandidat, setidaknya antara dua peserta pilpres yang sampai saat ini masih menjadi satu tim di pemerintahan.
Tim sukses SBY semenjak awal memang dominan pada strategi pencitraan personal. SBY di eksplorasi sedemikian rupa mulai dari iklan 100 orang berpengaruh, keluarga, hingga ‘jingle Indomie’. Sehingga yang ingin ditampilkan adalah personal SBY yang penuh pesona.
Sementara kompetitornya sedikit melakukan diferensiasi, iklan-iklan yang ditampilkan menunjukkan suatu semangat, dinamis, dan kerja keras. Dari personal JK yang jika berbicara memang selalu menunjukkan antusias, lincah, dan penuh energi, maka kesan yang tertangkap JK adalah pekerja keras.
Selain itu, politik atau strategi pencitraan adalah bagaimana membuat image, sehingga tak ubahnya seperti make up. Kelihatan terlalu sempurna, di-set up, formal, dan kaku. Image itu muncul sejak pertama kali SBY mendeklarasikan pencalonannya bersama Boediono. Sabuga di-set up ala latar kampanye Obama.
Peserta di atur agar membawa poster-poster dukungan SBY. Sementara JK yang mendeklarikasikan di Tugu Proklamasi, terkesan sangat sederhana, simpel, dan apa adanya. Dalam iklan yang di-release ke media-media, walau tidak lepas dari set up, namun kesan natural dan apa adanya selalu melekat pada JK.
Sejauh ini, itulah kesan yang tertangkap dari perang udara para capres di media. Apakah konsumen akan memilih berdasar citra atau kerja keras? Make up atau natural? Biarlah jawaban itu menjadi rahasia bersama yang akan terungkap pada 8 Juli mendatang.